Catatan Toleransi

Istilah toleransi seringkali terdengar di jejaring media sosial maupun di kehidupan sehari-hari. Sebagai warga negara Indonesia yang tumbuh dan besar di tanah air, segala hal yang dilakukan rasanya mengandung unsur toleransi. Pada akhirnya pun sudah menjadi makananku dari lahir hingga dewasa. Diambil dari KBBI daring, berikut definisi toleransi dan toleran.

toleransi
/to·le·ran·si/ n
1 sifat atau sikap toleran: dua kelompok yang berbeda kebudayaan itu saling berhubungan dengan penuh —
2 batas ukur untuk penambahan atau pengurangan yang masih diperbolehkan
3 penyimpangan yang masih dapat diterima dalam pengukuran kerja

toleran
/to·le·ran/ a
bersifat atau bersikap menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan, dan sebagainya) yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri

Kata “toleransi” diambil dari bahasa Latin “tolerare” yang berarti sabar dan menahan diri. Toleransi pun datang dalam berbagai macam bentuk, dengan pengertian yang luas. Salah satu yang utama terjadi di Indonesia yaitu toleransi antar suku dan agama. Selain dengan adanya 6 agama yang diakui, menurut Badan Pusat Statistik pada sensus penduduk tahun 2010, terdapat total 1,331 kelompok suku dan 652 bahasa daerah di Indonesia. Butuh upaya yang besar untuk menyatukan keseluruhan kelompok, bukan? Masing-masing individu tentunya memegang peran penting dalam toleransi.

Hari ini adalah hari yang dinanti bagi umat beragama Islam, Hari Raya Idul Fitri 1441 H. Hari yang menandakan berakhirnya bulan suci Ramadan setelah 30 hari berpuasa. Biasanya orang-orang akan bermudik, berkunjung ke kampung masing-masing, bersilaturahmi dengan keluarga dan kerabat. Namun, dikarenakan kondisi yang sedemikian rupa, tidak bisa terlaksanakan. Sekarang hanya bisa video call dengan keluarga bersama, ada yang mengirimkan paket lebaran, ada yang sebatas berkunjung ke rumah keluarga yang tidak jauh dari rumah.

Mendengar cerita dan pengalaman teman, kesejukan pun ikut terasa di hati. Indahnya toleransi. Terkadang aku juga merasa sedih karena tidak bisa ikut merayakan bersama, merasakan kebersamaannya. Aku hanya bisa sebatas mengucapkan salam, memberi doa, atau pun mengirimkan hadiah kecil untuk teman.

Latar Belakang

Sebagai orang keturunan Bali bertampang oriental yang tinggal di Jakarta, tidak bisa dipungkiri bahwa budaya dan kebiasaan yang aku serap berbeda. Aku tidak bisa bicara bahasa Bali, hanya bisa mendengar. Seringkali pun diusik oleh keluarga sendiri, “Cantik, tapi kok kayak Cina sih”. Ini justru membuatku lebih sedih lagi, intoleransi dari keluarga. Memang apa salahnya menjadi berbeda?

Dari kecil hingga sekolah dasar, aku bersekolah di sekolah Buddha. Tentunya dikelilingi teman berparas Tiongkok, aku berbaur saja, merasa bagian dari mereka. Lalu pada sekolah menengah pertama hingga atas, aku bersekolah di sekolah internasional. Walau masih dikelilingi teman berwajah oriental, sekarang merasa lebih luas lagi pandangannya. Ternyata ada juga yang berbeda. Banyak murid maupun guru yang berasal dari Filipina, India, Nepal, hingga Turki sekalipun. Di sini aku belajar lebih lagi mengenai toleransi, hidup berdampingan.

Sesampainya di jenjang perkuliahan, aku berkuliah di universitas swasta di Jakarta. Ternyata tidak seperti yang aku pikirkan. Banyak orang berpendapat bahwa universitas swasta mayoritas mahasiswanya beretnis Tiongkok. Aku yang mengalami sendiri tidak merasakan hal itu. Memang ada tapi tidak dalam kata mayoritas-minoritas. Menurutku, inilah definisi hidup bersama, dalam konteks ini kuliah bersama, beraktivitas bersama. Tidak memandang dari kelompok suku mana, kita berdampingan bersama.

Februari 2019 lalu, aku berkesempatan mengikuti program pertukaran pelajar ke Republik Ceko. Pada program ini, aku benar-benar terpapar dengan toleransi global. Aku berbincang dengan teman yang berasal dari Taiwan, Spanyol, Rusia, Perancis, hingga Siprus – negara yang tidak aku tahu keberadaannya sebelumnya. Kita berbincang, tanpa menyinggung etnis maupun agama. Hingga pada akhirnya dengan teman dekat, aku bertanya soal agama, dan ia menjawab bahwa keluarganya beragama Katolik, mayoritas negaranya pun juga, tapi saat ini ia tidak begitu memiliki kepercayaan. Aku pun tidak menilai dan ia juga tidak menilaiku. Persahabatan kita tidaklah sebatas agama atau kelompok suku. Selama kita masih menghargai satu sama lain, tidak ada salahnya menjalin tali pertemanan.

Ternyata dunia ini lebih besar dari yang aku kira, bukan hanya semata tanah air dan sekitar, masih ada dunia yang tidak aku ketahui. Di atas awan memang masih ada awan, begitu juga pengetahuan. Tidak akan ada manusia yang tahu akan segala hal, karena akan ada ilmu baru terus menerus.

Belajar Toleransi dan Terus Belajar

Di saat aku merasa bahwa aku sudah banyak belajar mengenai toleransi, hidup bisa saja memberikan kejutan. Aku bertemu dengan seseorang dari tanah Timur, tumbuh dan besar di sana, lalu merantau ke Jakarta untuk berkuliah. Terdapat perbedaan dari cara berpikir, tentunya budaya, dan kebiasaan. Aku yang terpapar anak perkotaan, terbiasa dengan pemandangan gedung tinggi, dan ia yang terpapar pemandangan indah, lautan dan pantai.

Jujur saja, sahabat-sahabat terdekatku beragama Islam, kita sering berbincang dan bercerita. Bukan untuk menilai dan membandingkan, tapi untuk mengerti. Aku juga pernah berada di posisi kolaborasi dengan organisasi keagamaan di kampus. Mungkin kepercayaan kita berbeda tetapi kita masih sama: kita manusia. Makhluk sosial yang diberikan keahlian untuk berproses.

Seiring berjalannya waktu, aku semakin belajar mengenai arti toleransi yang sebenarnya. Dari mulai informasi pada media sosial hingga cerita pribadi terhadap toleransi. Apakah toleransi itu mengucapkan selamat hari raya kepada orang terdekat yang merayakan? Apakah toleransi itu turut senang melihat kebahagiaan orang lain? Apakah toleransi itu perasaan saling menerima satu sama lain dengan keadaan masing-masing?

Saat hari raya Lebaran, kita diberi ketupat oleh tetangga, saat hari raya Natal, diskon bertebaran. Dekorasi pun berubah mengikuti indahnya hari perayaan. Tanggal merah di kalendar diterapkan kepada seluruh masyarakat. Satu libur, semua libur. Indahnya tinggal di Indonesia.

Mungkin beberapa orang tidak menyadari bahwa orang sekitarnya memiliki latar belakang dan cerita kehidupan yang berbeda. Coba mulai gali dan pertanyakan hal. Belajar untuk mengerti. Tempat asal dan keluarga memiliki faktor pembentuk karakter yang tinggi. Kita diberikan kebebasan memilih untuk menghapuskan garis perbedaan itu dan belajar bertoleransi untuk hidup bersama. Toleransi itu betul-betul indah. Pertanyaannya adalah apakah kita tidak mau menjadi indah?

2 thoughts on “Catatan Toleransi”

  1. Melalui pengalaman berbagai pelajaran didapatkan, melalui perbedaan hidup menjadi lebih bermakna. Pesan sederhana yang begitu kuat di bulan suci ini. Terima kasih!

Leave a Comment

Your email address will not be published.