Kisah Pandemi

Hari demi hari dilalui, tidak terasa minggu ke minggu sudah dilewati. Berada di suatu tempat untuk waktu yang lama, tidak sedikit yang terjadi. Banyak belajar, banyak bersabar.

“Kapan ya bisa ketemu lagi?”
“Kangen deh ngumpul-ngumpul”
“Bagaimana ya keadaannya nanti setelah semua ini berlalu?”
“Apa sih yang bisa kita pelajari dari keadaan ini?”
…dan masih banyak lagi pertanyaan dan pernyataan yang dilontarkan satu sama lain. Tentunya kita hanya bisa berandai-andai.

Kilas Balik Sebelum Pandemi

Foto-foto berikut diambil pada November 2019, jauh sebelum dunia dilanda pandemi. Terlintas di pikiran pun bahkan tidak. Apakah indah? Apakah itu kehidupan normal? Sejujurnya, tidak juga. Akan tetapi, setidaknya lebih baik.

Apa sih arti kehidupan “normal” menurutmu? Menurutku, semua yang aku lalui selama tinggal di Bumi, belumlah normal. Masih banyak yang perlu diperbaiki, masih banyak yang perlu diubah. Sebagai bagian dari masyarakat yang jumlahnya tidak sedikit — 267 juta penduduk di tahun 2018 — masih banyak ketidakadilan di tanah air, bahkan secara global.

Tidak terhitung isu yang ada jika aku sebutkan satu-satu. Kesetaraan gender dan sesama manusia, perubahan iklim, kekerasan seksual, minimnya kesadaran tentang kesehatan mental, dan lain lain.

Setidaknya dulu, kita masih diberi kesempatan untuk bertemu dan beraktivitas di luar. Bagiku, “keluar” merupakan salah satu jalan terbaik untuk menenangkan diri. Keluar untuk menghirup udara, untuk menghibur diri, untuk sekedar berada dalam keadaan bergerak. Sekarang tidak ada lagi nongkrong di kafe seharian untuk mencari wi-fi kencang gratisan sembari duduk di sofa empuk sambil ngopi.

Tidak pernah terpikirkan olehku, berjumpa dan berkontak fisik dengan orang lain, dapat berakibat fatal. Penyebaran mikroorganisme yang begitu cepat dan tidak terdeteksi, akan sungguh berdampak bagi keseluruhan masyarakat jika tidak waspada.

Aktivitas Selama Pandemi

Tentunya pengalaman setiap orang berbeda. Menjadi salah satu orang yang diberi kesempatan untuk menjalani aktivitas di rumah, aku bersyukur dengan segala kendala yang ada, teringat bahwa banyak yang tidak punya kesempatan itu.

Sebelumnya, aku salah satu orang yang aktif keluar dari rumah untuk berkegiatan. Bekerja di kantor, skripsi bersama teman, mengajar kelas privat. GO-JEK, Grab, dan Transjakarta sudah menjadi sahabat seperjuangan. Namun, dengan situasi seperti ini, rasanya tidak bijak jika tetap beraktivitas di luar.

Dengan sederetan tantangan, mau tidak mau pun harus menyesuaikan. Selama di rumah juga tidak selalu indah, rasanya hal yang biasa didapatkan saat keluar rumah, sekarang tidak lagi bisa. Beberapa kali juga merasa tidak produktif hingga membebani diri sendiri. Tidak mudah memang, oleh sebab itu, kita harus tetap berjuang. Apakah kamu tidak mau melihat hari esok yang lebih cerah?

Setelah Ini, Bagaimana?

Dari beberapa bulan ke belakang, kita sudah menjadi saksi akan kesulitan hingga kegagalan sederetan perusahaan, bahkan perusahaan ternama. Banyak bidang usaha yang dipaksa untuk segera beradaptasi ke platform digital, meskipun belum siap. Institusi pun tetap melakukan pengajaran. Ujian akhir, sidang sarjana maupun doktor, hingga kelulusan dilakukan secara daring.

Pandemi yang kita alami sekarang, tentu memberatkan seluruh dunia, walaupun ada juga negara yang sukses dalam penanganan. Tidak bisa dipungkiri bahwa kedepannya, berbagai sistem pun akan berubah dan diharapkan akan memberikan dampak positif. Karena di setiap tantangan ada kegagalan dan kesuksesan, hanya usaha kita yang akan mempengaruhi hasil.

Meskipun kita tidak tahu kapan semua ini akan berakhir, perjalanan kehidupan kita masih panjang. Masih ada tujuan yang harus dicapai, keinginan yang ingin diwujudkan. Beberapa orang mungkin merasa perjalanannya tertunda, tidak apa, itu bagian dari perjalananmu.

“Love yourself when you’re tired. Love yourself when you’re weak. Love yourself when you’re confused. Love yourself when you’re broken. Love yourself until you’re restored.”

Kalimat di atas aku berikan sebagai pengingat untuk selalu menjaga diri kita sendiri. Dalam segala situasi, hanya kita yang memiliki kontrol atas diri sendiri.

Dengan adanya jarak di antara ruang dan waktu, semoga kita selalu diberikan kesehatan dan keselamatan, kejernihan dalam setiap pikiran yang muncul, serta kedamaian selalu. Kirim pelukan virtual untuk semuanya. Terima kasih sudah berjuang hingga titik ini!

Leave a Comment

Your email address will not be published.